Tampilkan postingan dengan label Analisis Sekuritas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analisis Sekuritas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2020

REVIEW JURNAL NASIONAL DAN INTERNASIONAL TERKAIT ANALISIS OPSI DAN ANALISIS FUTURES (TYAS AGUSTIN SETYANINGRUM/ 17510030/ ANALISIS SEKURITAS KELAS F)


Nama/NIM                 : Tyas Agustin Setyaningrum/17510030
Mata Kuliah               : Analisis Sekuritas
Dosen Mata Kuliah   : M. Nanang Choiruddin, S.E., M.M

REVIEW JURNAL NASIONAL TERKAIT ANALISIS OPSI
Judul
Opsi Saham Pada Pasar Modal di Indonesia (Studi Pasar Opsi Saat Pasar Opsi Masih Berlangsung di Bursa Efek Indonesia)
Jurnal
Jurnal Muara Ilmu Ekonomi dan Bisnis
Volume & Halaman
Vol. 2, No. 2: hlm 300-312
Tahun
Oktober 2018
ISSN
  • ISSN 2579-6224 (Versi Cetak)

ISSN-L 2579-6232 (Versi Elektronik)
Penulis dan Institusi Asal
Syanti Dewi, Ishak Ramli (Dept Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Tarumanagara, Jakarta)
Reviewer
Tyas Agustin Setyaningrum (17510030)
Tanggal
02 Mei 2020


Abstrak Jurnal


Pasar  pertukaran  opsi  saham  tidak  berfungsi  lagi  di  Bursa  Efek  Indonesia,  dengan  menggunakan  pasar pertukaran opsi data untuk periode berjalan 2007-2008, kami menganalisis pengaruh harga saham, strike price, waktu jatuh tempo, volatilitas, dan suku bunga  bebas risiko. pada harga opsi saham dari panggilan saham  yang  terdaftar  atau  perdagangan  put  option  di  Bursa  Efek  Indonesia  selama  2007-2008.  Hasil penelitian  menemukan  bahwa  harga  saham,  strike  price,  waktu  jatuh  tempo,  volatilitas  dan  suku  bunga bebas risiko positif signifikan mempengaruhi harga opsi saham baik harga opsi beli atau harga opsi jual di Bursa  Efek  Indonesia  periode  2007-2008.  Sementara  tidak  ada  variabel  yang  secara  signifikan mempengaruhi  opsi  panggilan  selama  periode  2007-2008,  lebih  lanjut  harga  saham  dan  harga  strike secara  signifikan  mempengaruhi  harga  opsi  beli.  Waktu  untuk  jatuh  tempo,  Volatilitas,  dan  tingkat  suku bunga bebas risiko tidak secara signifikan mempengaruhi harga opsi put. Itulah sebabnya pasar bursa opsi saham  berhenti  karena  investor  tidak  yakin  dengan  harga  opsi  saham  versus  risiko  volatilitas,  waktu hingga jatuh tempo , dan tingkat bebas risiko
Latar Belakang Masalah

Pasar opsi dipasar modal Indonesia sudah tidak berjalan sejak tahun 2010, padahal opsi saham sebagai  derivatif merupakan  suatu instrumen keuangan  yang diharapkan akan mengamankan risiko saham yang bersangkutan. Merupakan  suatu kesepakatan antara dua pihak  yang  mempunyai  suatu  nilai  tertentu  yang  ditetapkan  berdasarkan  harga  sesuatu yang lain.
Tujuan Penelitian
a.   Menguji apakah harga saham, harga  strike,  time to maturity, volatilitas harga saham, risk-free  interest  rate  secara  bersama-sama  mempengaruhi   harga  opsi  saham  saat pasar opsi masih berlangsung di Bursa Efek Indonesia.
b.   Menguji apakah harga saham mempengaruhi harga opsi saham  saat pasar opsi masih berlangsung di Bursa Efek Indonesia.
c.   Menguji apakah harga  strike  mempengaruhi harga opsi saham  saat pasar opsi masih berlangsung di Bursa Efek Indonesia
d.   Menguji  apakah  time  to  maturity  mempengaruhi  harga  opsi   saham  saat  pasar  opsi masih berlangsung di Bursa Efek Indonesia.
e.   Menguji apakah volatilitas harga saham mempengaruhi harga opsi saham  saat pasar opsi masih berlangsung di Bursa Efek Indonesia
f.   Menguji risk-free interest rate  mempengaruhi harga opsi saham saat pasar opsi masih berlangsung di Bursa Efek Indonesia
Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini terkait opsi saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, BI  Rate  terkait transaksi opsi saham selama tahun 2007  –2008, yaitu periode mulai  ditransaksikan  kembali  kontrak  opsi  saham  setelah  sempat  terhenti  sejak  tahun 2004.Mengingat data yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh data transaksi opsi saham  yang  terjadi  pada  BEI,  maka  penenelitian  ini  menggunakan  data  sensus transaksi saham yang terjadi pada di Bursa Efek Indonesia selama periode 2007  –  2008 (saat  pasar  opsi  masih  berlangsung  di  Bursa  Efek  Indonesia).  Hanya  ada  empat  saham perusahaan yang tercatat dalam seluruh kontrak opsi saham di BEI pada periode tersebut  yakni PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT Telekomunkasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Bank Asia Central Tbk (BBCA).
Kajian Teori
Ada  lima  faktor  yang  mempengaruhi  nilai  opsi  antara  lain  :  (1)  nilai  dari underlying asset; semakin besar harga dari underlying asset maka semakin besar nilai dari opsi call; (2) harga  exercise, semakin rendah harga stike maka semakin besar nilai dari opsi call; (3) nilai waktu uang, opsi call merupakan hak untuk membeli aset suatu waktu di masa depan. Dan dikarenakan opsi merupakan pembelian di masa depan maka semakin besar  biaya  kesempatan,  akan  semakin  besar  pula  nilai  opsi;  (4)  volatilitas  yang diharapkan, semakin besar volatilitas darinilai  underlying asset maka akan semakin besar pula nilai dari opsi saham; dan (5)  time to maturity (periode waktu jatuh tempo), semakin lama masa waktu jatuh tempo maka akan semakin besar nilai opsi (Fabozzi, 2003: 24).
Metode Analisis Data



Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda serta proses analisis data dilakukan dengan menggunakan program Eviews 6.
Hasil Penelitian
Berdasarkan  hasil  pengujian  yang  dilakukan  oleh  penulis,  diketahui  bahwarisk-free interest  rate  tidak  signifikan  mempengaruhi  harga  opsi  saham  di  Bursa  Efek  Indonesia.   Hasil pengujian sesuai dengan pendapat  Fabozzi (2003) yang mengatakan bahwa tingkat suku bunga bebas  risiko  tidak  termasuk  dalam  faktor  yang  mempengaruhi  harga  opsi.  Sedangkan  hasil pengujian  dalam  penelitian  ini  tidak  sesuai  dengan  penelitian  Roon  dan  Veld  (1996)  yang mengatakan bahwa opsi yang di-exercise  lebih awal dipengaruhi secara signifikan oleh  interest rate  dan pada tingkat yang lebih rendah, waktu jatuh tempo. Hal  yang menyebabkan  risk-free interest  rate  tidak  signifikan  mempengaruhi  harga  opsi  adalah  periodejatuh  tempo  opsi  yang rata-rata cepat sebelum  expiration date  sehingga tingkat suku bunga bebas risiko yang diambil ditetapkan oleh Bank Indonesia melalui Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan jangka waktu 1 bulan di setiap bulannya tidak memiliki pengaruh yang kuat.
Keterkaitan dengan Teori atau Referensi  yang Digunakan
Opsi  saham  (stock  option)  merupakan  salah  satu  produk  derivatif  yang  banyak diperdagangkan  di  negara-negara  yang  pada  umumnya  memiliki  kondisi  pasar  modal yang  sudah  maju.  Hal  ini  dikarenakan adanya  beberapa manfaat  yang  didapatkan  yaitu sebagai alat manajemen resiko ( pemodal yang memiliki put option atas suatu underlying asset dapat melakukan hedging melalui penundaan penjualan saham yang dimilikinya bila harga  underlying  asset-nya  turun  dratis  secara  tiba-tiba,  sehingga  dapat  menghindari resiko  kerugian),  memberikan  waktu  yang  fleksibel  (untuk  option  tipe  amerika  dimana pemegang call maupun put option dapat menetukan apakah akan melaksanakan haknya atau  tidak  hingga  masa  jatuh  tempo  berakhir),  menyediakan  sarana  spekulasi  (para pemodal  dapat  memperoleh  keuntungan  jika  dapat  memperkirakan  harga  naik  dengan mempertimbangkan  membeli  call  option,  dan  sebaliknya  bila  memperkirakan  harga cenderung  turun  dapat  mempertimbangkan  untuk  membeli  put  option),  leverage(memberikan  hasil  investasi  yang  lebih  besar  dibandingkan  dengan  bila  menanam dananya  pada  saham),   diversifikasi  (dengan  melakukan  perdagangan  option  dapat memberikan kesempatan kepada pemodal untuk melakukan diversifikasi portofolio untuk tujuan memperkecil resiko investasi portofolio), penambahan pendapatan (pemodal yang memiliki  saham  dapat  memperoleh  tambahan  pemasukan  selain  dari  deviden,  yaitu dengan menerbitkancall optionatas saham mereka), teori ini sama halnya teori yang berlaku saat ini yang disampaikan oleh Bapepam pada 2003.
Di  dalam  pasar  yang  terdapat  biaya  transaksi  ( transaction  cost),  pemegang American option  akan mengeksekusi opsinya lebih cepat bila dibandingkan dengan tanpa adanya biaya transaksi. Fenomena  ini berlaku untuk  put option  maupun call option  yang sahamnya  tercatat  tidak  melakukan  pembagian  dividen.  Semakin  tinggi  level  biaya transaksi atau semakin tinggi pemegang opsi ( option holder) dalam menghindari risiko, semakin  cepat  pula  pemegang  American  option  untuk  meng-exercise  opsinya  (Valeri Zakamouline, 2003).
Keuntungan  yang  berasal  dari  peningkatan  likuiditas  di  dalam  pasar  underlyingdikarenakan  adanya  hedging,  arbitrage  dan  stategi  trading  baru.  Efisiensi  dan  biaya transaksi  yang  rendah  dari  pasar  derivatif   membuatnya  menjadi  relatif  lebih  menarik dalam pilihan investasi. Dalam pasar opsi,  price discovery  berhubungan dengan  trading volume,  spreads  di  antara  kedua  pasar  dan  volatilitas  saham.  Price  discovery  dengan harga  strike  pada  opsi  berhubungan  dengan  leverage,  trading  volume  dan  spreads. (Chakravarty, Gulen dan Mayhew, 2004).
Rekomendasi
Penelitian kali ini mengkaji harga saham,  harga  strike,  time to maturity,  volatilitas  dan  risk-free interest rate  secara bersama-sama yang tenyata hasilnya  signifikan  positif  mempengaruhi  harga  opsi  saham   baik  itu  harga  opsi  beli maupun  harga  opsi  jual  di  Bursa  Efek  Indonesia  periode  2007 - 2008  saat  pasar  opsi  masih berlangsung, saya merekomendasikan untuk peneliti selanjutnya untuk  juga focus pada underlying asset yaitu strike price karena dengan hal itu investor akan mengetahui keputusannya apakah sudah baik atau belum karena  saham pada harga opsi beli di Indonesia, yang rata -rata berada di kondisi  out of the money, saat harga strike di atas harga saham bisa merugikan pemegang kontrak opsi beli.


REVIEW JURNAL INTERNASIONAL TERKAIT ANALISIS FUTURES
Judul
Analysis on The Effect of New Futures Contract Coming Into Market: Taking The Related Metal Futures in SHFE for Example.
Jurnal
Elsevier Procedia Computer Science Direct
Volume & Halaman
31 halaman  175 – 183
Tahun
2014
Penulis dan Institusi Asal
Wang Bina dan Long Wen (School of Management, University of Chinese Academy of Sciences, Beijing 100190, China dan Research Center on Fictitious Economy & Data Science, Chinese Academy of Sciences, Beijing 100190, China)
Reviewer
Tyas Agustin Setyaningrum (17510030)
Tanggal
02 Mei 2020


Abstrak Jurnal
Pasar masa depan di Cina telah dikembangkan selama 20 tahun dan sekarang memasuki masa keemasannya. Kontrak berjangka baru telah dipercepat terdaftar untuk perdagangan dan struktur pasar telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir. Penting untuk meneliti efek dari kontrak berjangka baru pada mereka yang telah diperdagangkan. Dan para peserta pasar cenderung memperhatikan volatilitas harga di masa depan karena merupakan salah satu properti terpenting dari kontrak berjangka. Makalah ini menggunakan model EGARCH untuk meneliti pengaruh jenis baru masa depan pada volatilitas harga jenis yang ada, mengambil 8 jenis logam berjangka yang terdaftar diShanghai Future Exchange misalnya. Dan keluar bahwa volatilitas harga dari kontrak yang ada akan berkurang setelah yang baru masuk pasar.
Latar Belakang Masalah

Munculnya kontrak berjangka baru merangsang arbitrase, terutama yang memiliki korelasi tinggi dengan kontrak yang ada. Arbitrager membeli kontrak berjangka terlalu tinggi dan menjual kontrak berjangka terlalu rendah saat itu spread antara dua kontrak tidak masuk akal. Perilaku ini mengurangi volatilitas harga sampai batas tertentu. Di atas segalanya, kontrak baru yang masuk ke pasar akan mengurangi volatilitas harga dari kontrak yang ada secara teoritis ketika ada sedikit perubahan dalam struktur pasar dan skala modal.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tentang pengaruh kontrak berjangka baru yang datang ke pasar
Subjek Penelitian
SHFE
Kajian Teori
Ragunathan dan Peker (1997) menganalisis hubungan antara volatilitas harga, volume perdagangan dan minat terbuka, kemudian temukan pengaruh positif yang signifikan dari volume perdagangan dan minat terbuka pada volatilitas harga.
Hua dan Zhong (2004) menganalisis tembaga, aluminium, karet, gandum, kedelai berjangka dengan model GARCH dan menemukan bahwa volume perdagangan, minat terbuka dan keterlambatan mereka berpengaruh signifikan terhadap volatilitas harga.
Metode Analisis Data



Karena deret waktu finansial biasanya ada fenomena volatilitas clustering, residu dari model menggunakan ini data menunjukkan heteroskedastisitas dan autokorelasi, yang disebut efek ARCH. Engle diusulkan model ARCH yang banyak digunakan untuk menganalisis deret waktu keuangan. Model ini mengasumsikan bahwa bersyarat varians residual terkait dengan kuadrat residu lagging, dan persamaan varians kondisional ditambahkan ke model deret waktu tradisional untuk menangkap karakteristik dinamis varian. Namun, dalam studi empiris, Model ARCH yang diestimasi dengan baik seringkali membutuhkan banyak periode jeda untuk mendapatkan efek pemasangan yang lebih baik, yang pasti akan terjadi membutuhkan estimasi banyak parameter. Untuk mengatasi masalah ini, Bollerslev (1986) memodifikasi model ARCH oleh memungkinkan varian conditional lagged untuk memasuki model serta varians sampel masa lalu, yang disebut GARCH model. Bukti empiris menunjukkan bahwa model GARCH dapat lebih menangkap heteroskedastisitas residu seri kembali.
Hasil Penelitian
Munculnya kontrak baru telah mengurangi volatilitas kontrak yang ada dengan syarat tidak ada krisis sistemik yang terjadi. Dampak volatilitas harga dari satu kontrak baru yang terdaftar untuk varietas terkait, dan tidak mempertimbangkan dampak limpahan volatilitas. Bahkan, arbitrase disebabkan oleh kemunculan kontrak baru yang sering memperkuat koneksi di antara kontrak-kontrak yang ada, yang dapat memperbesar efek limpahan volatilitas secara keseluruhan pasar berjangka. Oleh karena itu, volatilitas abnormal dari satu kontrak dapat ditransfer ke kontrak lain dengan lebih mudah setelah kontrak baru masuk ke pasar. Akibatnya munculnya kontrak baru tampaknya akan meningkatkan risiko sistematis, meskipun memang mengurangi volatilitas kontrak tunggal. Di masa depan kami berharap penelitian ini dampak dari terdaftar baru dapat diperluas ke seluruh pasar, terutama lebih lanjut menyelidiki risiko sistemik di pasar.
Keterkaitan dengan Teori atau Referensi  yang Digunakan
Volatilitas  merupakan  pengukuran  statistik  atas  fluktuasi  harga  selama  periode  tertentu  (Laporan Studi Volatilitas Pasar Modal  Indonesia dan Perekonomian  Dunia, 2001). Volatilitas sering dipersepsikan sebagai risiko dan dijelaskan oleh simpangan baku atau  standard deviation. Penting bagi investor untuk dapat memahami volatilitas dalam aktivitas  trading  di bursa saham. Dengan mengenali volatilitas, maka investor dapat menilai sebaiknya instrumen apa yang harus dibeli dan disesuaikan dengan tujuan dari setiap investor.
Awal terbentuknya futures market untuk mempertemukan kebutuhan antara petani dengan pedagang (Rialisty, 2003). Ketidakpastian mengenai harga panen menjadi alasan utama adanya pasar  futures.  Risiko  ketidakpastian  harga  tersebut  dapat  diatasi  dengan  menegosiasikan  harga sebelum datangnya hari panen. Petani dan pedagang membuat suatu kontrak berjangka yang akan disepakati bersama. Kontrak yang dibuat pada hari itu akan dilaksanakan di waktu kemudian dan juga pembayarannya ditentukan sesuai dari perjanjian kontrak futures tersebut. Seiring  perkembangan  zaman,  pasar  futures  makin  berkembang.  Saat  ini  tidak  hanya komoditas pertanian saja yang diperdagangkan, tetapi juga  forex  (foreign exchange) dan indeks
Saham
Rekomendasi
Penelitian kali ini mengkaji tentang pengaruh kontrak berjangka baru yang datang ke pasar dimana subjek penelitiannya adalah logam pada SHFE China,  saya merekomendasikan untuk peneliti selanjutnya agar meneliti tentang pengaruh kontrak berjangka baru dengan subjek yang sama namun akan lebih menarik lagi jika dikaitkan dengan pengaruh adanya pandemic Covid-19 ini.


DAFTAR PUSTAKA

Evans,  Denise  J.D.  dan  O.  William  Evans.  (2007).  The  Complete  Real  Estate  Encyclopedia:
From  AAA  Tenant  to  Zoning  Variancess  and  Everything  in  Between.  First  Edition.
McGraw-Hill.
Fabozzi, Frank. J. (2000). Manajemen Investasi. Jakarta : Salemba Empat
Hull,  John.  C.  (2000).  Options,  Futures  &  Others  Derivatives.  Fourth  Edition.  New  Jersey:
Prentice-Hall Inc.
Mishkin,  Frederic  S.  (2001).  The  Economic  of  Money,  Banking  and  Financial  Market.  New
York: Addison Wesley.
Najand M, Yung K. A GARCH examination of the relationship between volume and price variability in futures markets. Journal of Futures Markets 1991.
Rivano, Ricky. (2006). Analisis Penerapan Black-Scholes Option Pricing Model dalam Penilaian
Opsi  Beli  Saham  dan  Faktor-Faktor  yang  Mempengaruhinya.  Thesis  MM.  Universitas
Gajah Mada.
Xie Lei, Wang Yecheng. Empirical Study on Influence of Stock Index Futures on Stock Spot Market Fluctuation.Technology Economics 2010

REVIEW JURNAL OPSI & FUTURES (Cholifatul Laila)

Cholifatul Laila
17510028
M. Nanang Choiruddin,SE., MM
Analisis Sekuritas H

REVIEW JURNAL (ANALISIS OPSI)

Judul Jurnal:
Analisis Opsi Saham dan Opsi Valas dengan Menggunakan Model Black-Shcoles (Study Simulasi 6 Saham di Bursa Efek Jakarta dan 6 Valas di Bursa Efek Indonesia)

Penulis:
Gugyh Susandy

Reviewers:
Cholifatul Laila (17510028)

Latar Belakang Penelitian: 
       Opsi merupakan suatu instrument derivative yang diperdagangkan hampir diseluruh bursa ternama di dunia. Opsi ialah suatu perjanjian ataupun kontrak yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli atau menjual suatu asset dengan harga dan kurun waktu tertentu pada masa yang akan datang. Opsi ini diminati para investorkarena memiliki manfaat bagi hedger untuk mengurangi resiko dan kesempatan bagi speculator untuk me-laverage keuntungan (meningkatkan proporsi margin terhadap penambahan investasi). 
      Terdapat dua jenis  opsi yang digunakan oleh seorang investor. Jenis yang pertama ialah opsi beli (call), yaitu kontrak yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli suatu asset keungan, dalam hal ini saham dan valas, pada harga dan waktu tertentu di masa yang akan datang. Jenis opsi kedua adalh opsi put, yaitu kontrak yang memberikan suatu hak dasar pada harga dan waktu tertentu dimasa di masa yang akan datang. 

Teori Utama yang Digunakan:
               Penulis menggunakan model Black-Scholes, dimana model ini mempunyai kemungkinan perubahan harga saham dan kurs valas secara acak (random walk), sehingga distribusi peluang pergerakan harga saham ataupun kurs valas tersebut ialah distribusi lognormal dan diperlukan suatu pendekatan fungsi perhitungan distribusi normal kualitatif. Secara garis besar, penilaian dua jenis opsi dengan menggunakan model Black-Scholes ini menyertakan nilai intrinsic, nilai waktu dan volatilitas harga pasar sebagai elemen penting dalam proses perhitungannya sedangkan perbedaan yang mendasar dalam penilaian opsi dengan menggunakan model ini ialah dalam dua jenis asset keuangan dasar nyang diperjualbelikan.

Metodologi penelitian: 
  • Objek Penelitan: 

  Harga opsi saham dalam kaitannya dengan volatilitas harga saham dengan harga opsi valas dalam kaitannya dengan volatilitas harga (kurs) valas. 
  • Metode penelitian:

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan jenis studi komparatif yang bersifat ex post facto.
  • Sampel Penelitian:

   Peneliti menarik sampel yang merupakan saham-saham pada perusahaan-perusahaan yang mewakili 6 sektor industry di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan valuta-valuta yang terdiri atas 6 valuta yang termasuk ke dalam golongan valuta kuat. 
  • Hipotesis: 

 - Ho: tidak terdapat perbandingan antara nilai opsi saham dan opsi valas dengan menggunakan model Black-Scholes. 
- Ha:  terdapat perbandingan antara nilai opsi saham dan opsi valas dengan menggunakan model Black-Scholes. 

Hasil Penelitian:
   Penelitian ini dapat mmengetahui perkembangan nilai opsi saham Black-Scholes dari 6 saham yang diteliti periode 2004-2005 mengalami kenaikan untuk nilai  call “at the money” sedangkan untuk nilai put “at the money” mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh adanya volatilitas harga saham yang mempengaruhi nilai opsi call dan opsi put. Nilai opsi call akan semakin meningkat apabila nilai saham meningkat, sedangkan nilai  opsi put akan semakin meningkat apabila nilai saham turun. 
          Setelah dilakukan pengujian hipotesis dan analisis uji statistic dapat diketahui bahwa kedua penialian opsi saham dan opsi valas dengan menggunakan model black-scholes tersebut terhadap perbandingan dalam nilai call “at the money” tetapi tidak dapat perbandingan dalam nilai put “at-the-money”. hal ini ditunukkan dalam perhitungan uji statistic dimana nilai t-hitung untuk  call “at the money”  melebihi nilai yang sudah ditentukan, sedangkan  put “at-the-money” kurang dari nilai tersebut. Penilaian nilai opsi saham dan opsi valas model Black-Scholes didasarkan pada asumsi perilaku pergerakan harga saham dan kurs valas dengan jalur acak sehingga distribusi peluang pergerakan harga saham ataupun kurs valas ialah distribusi lognormal dan diperlakukan suatu pendekatan fungsi perhitungan ditribusi normal kumulatif. 

Kaitannya dengan Teori Reviewers:
         Menurut Tandelilin (2010) opsi adalah suatu perjanjian/kontrak antara penjual opsi (seller atau writer) dengan pembeli opsi (buyer), dimana penjual opsi menjamin adanya hak (bukan suatu kewajiban) dari pembeli opsi, untuk membeli atau menjual saham tertentu pada waktu dan harga yang telah ditetapkan. Pihak pihak yang terlibat dalam opsi adalah para investor dengan investor laonnya, dan tidak melibatkan perusahaan penerbit sekuritas saham yang dijadikan opsi. 
       Berdasarkan bentuk hak yang terjadi, opsi bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu opsi beli (call option) dan opsi jual (put option). Call option adalah opsi yang memberikan hak keepada pemegangnya untuk membeli saham dalam jumlah tertentu pada waktu dan harga yang telah ditentukan. Put option adalah opsi yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk menjual saham tertentu pada jumlah, waktu, dan harga yang telah ditentukan. 
Menurut Wilmott dalam Marthin (2017) opsi dapat dibedakan berdasarkan waktu pelaksanaannya, yaitu:
1. Opsi tipe Eropa (European Option), yaitu opsi yang dapat digunakan hanya pada tanggal jatuh tempo. 
2. Opsi tipe Amerika (American Option), yaitu opsi yang dapat digunkan sebelum atau pada tanggal jatuh tempo. 
      Harga opsi merupakan cerminan dari nilai intrinsic opsi dan setiap tambahan jumlah atas intrinsic. Premi atas nilai intrinsic disebut dengan nilai waktu atau premi waktu. Nilai intrinsic opsi adalah nilai ekonomis jika opsi dilaksanakan dengan segera (Fabbozi dan Markowitz:2002)
       Model Black-Scholes dikembangkan oleh Fisher Black Dan Myron Scholes pada tahun 1973. Model Black-Scholes digunakan untuk opsi Saham Eropa. Di Dalam model Black-Scholes terdapat beberapa asumsi daintaranya tidak ada deviden, tidak ada administrasi, suku bunga bebas resiko dan konstan selama umur opsi (Riaman:2016).

Rekomendasi untuk analisis selanjutnya:
         Disarankan kepada analis selanjutnya untuk menambah data penutupan, dengan cara menambah waktu jatuh tempo. Agar bisa memperoleh data nilai volatilitas yang akurat.

REVIEW JURNAL II (ANALISIS FUTURES)

Judul Jurnal:

  1. Pengaruh Kontrak Furures Indeks Terhadap Volatilitas Underlying Spot Market di Indonesia (Studi Pada LQ45 Futures 2001-2009)


Penulis:
Sony Fidanti
J. Sukmawati Sukamulja

Reviewers:
Cholifatul Laila (17510028)

Latar Belakang Penelitian:
          Pasar derivative dimulai sekitar tahun 1950-an di Ameika Serikat, kemudian merambah ke Eropa dan Asia termasuk Indonesia. Perkembangan pasar derivative di Indonesia diawali dengan dibukanya Bursa Berjangka Pnjang (BBJ) pada tahun 2000 yang didalamnya diperdagangkan produk-produk berjangka komoditas pertanian seperti kopi, sawit, cokelat dan lainnya. Salah satu produk derivative yang diminati oleh investor, yaitu derivative keuangan. Kontrak futures di Indonesia mulai diperdagangan di Surabaya Stock Exchange (SSX) sebelum adanya Indonesia Stock Exchange (IDX) pada tahun 2000, dengan Indek LQ45 sebagai asset penyertaannya- underlying asset. Investor mrnggunakan futures contract biasanya untuk dua hal, yang pertama untuk melindungi nilai asset yang dimiliki (hedging) dan untuk memperoleh keuntungan akibat adanya pergerakan harga (spekulasi)- biasanya pada kontrak futures indeks dan forex.
     Setelah kemunculan kontrak futures. banyak peneliti memperdebatkan bagaimana efek yang akan ditimbulkan dari perdagangan ini terhadap pasar saham. Setidaknya ada dua argumen utama yang menjadi perdebatan dikalangan peneliti. Argumen pertama mempercayai bahwa adanya kontrak futures –atau adanya futures trading dapat meningkatkan volatilitas pasar saham dengan membuat ketidakstabilan pada harga spot dari underlying-nya. Argumen berikutnya mempercayai bahwa adanya kontrak futures ini memiliki pengaruh baik terhadap harga underlying-nya.
     Penelitian mengenai kontrak futures indeks LQ45 atau yang lebih dikenal dengan LQ45 Futures memang terbilang jarang dilakukan, selain karena hal-hal yang telah disebutkan di atas. Penyebab lainnya, disebabkan singkatnya masa perdagangan kontrak tersebut. Seperti yang telah diketahui, LQ45 Futures telah dihentikan perdagangannya pada tahun 2009, atau hanya berjalan selama 9 tahun –sejak kemunculannya di tahun 2001.

Teori Utama yang Digunakan:
        Efficient Market Hypotesis (EMH), Teori ini menyatakan bahwa suatu pasar –pasar modal dikatakan efisien apabila tidak seorangpun, baik investor individu maupun investor institusi, mampu memperoleh return tidak normal (abnormal return), setelah disesuaikan dengan risiko, dengan menggunakan strategi perdagangan yang ada. Teori pasar efisien terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu: (1) efisiensi pasar bentuk lemah (weak- form efficiency). Pasar dalam bentuk ini hanya mencerminkan keseluruhan data historis, namun tidak dengan informasi publik ataupun privat, sehingga investor dapat mengambil keuntungan yang lebih tinggi dengan memanfaatkan informasi publik ataupun privat yang dimilikinya;
(2) efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semi-strong-form efficient), Kondisi pasar setengah kuat berarti bahwa investor yang memiliki informasi privat-lah yang dapat membukukan imbal hasil abnormal (abnormal return) sebelum informasi tersebut dipublikasikan dipasar;
(3) efisiensi pasar bentuk kuat (strong-form efficiency), Dalam pasar bentuk ini, tidak ada kemungkinan bagi investor untuk memperoleh imbal hasil yang jauh melebihi tingkat risikonya (abnormal return).

Metodologi Penelitian:
  • Objek Penelitian:

Kontrak futures indeks terhadap volatilitas underlying spot market.
  • Metode penelitian:
  1. Menghitung return harian dari indeks LQ45.
  2. Analisis statistik deskriptif pada data return indeks LQ45 selama periode pengamatan, yakni periode pre-futures, post-futures, dan periode keseluruhan (overall).
  3. Uji Stasioneritas
  4. Uji ARCH – LM
  5. Uji Model GARCH (1,1)
  • Sampel Penelitian:
     Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga penutupan harian dari indeks LQ45 periode 2000 sampai 2009. Data diklasifikasikan berdasarkan periode sebelum (pre-futures) dan sesudah (post-futures) keberadaan kontrak futures indeks. LQ45 Futures muncul pada tanggal 13 Agustus 2001.

  • Hipotesis:
H1 : Kontrak futures indeks berpengaruh pada penurunan volatilitas underlying spot market.
H2  :  Kemunculan kontrak futures indeks berpengaruh pada pengingkatan efisiensi pasar.

Hasil Penelitian:
    Dari hasil penelitian tersebut yang mengacu pada hipotesis bisa ditarik kesimpulan bahwa H1 (kontrak futures indeks berpengaruh pada penurunan volatilitas underlying spot market) tidak didukung karena nilai probabilitas RESID dan GARCH menunjukkan nilai yang kecil dibandingkan dengan nilai angka, hal ini membuktikan bahwa data return harian indeks LQ45 mengandung volatilitas. Volatilitas yang terjadi selama periode pengamatan juga diketahui rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai penjumlahan koefisien error dan koefisien variasi yang menghasilkan nilai kurang dari yang sudah ditentukan.
   Sedangkan untuk H2 (Kemunculan kontrak futures indeks berpengaruh pada peningkatan efisiensi pasar) ini didukung, karena Perbandingan sub-sample untuk melihat efisiensi pasar sebelum dan setelah keberadaan kontrak futures indeks dapat dilakukan dengan menjumlahkan kedua nilai koefisien ARCH dan GARCH pada setiap sub-sample (pre dan post). Dan melalui hasil penjumlahan tersebut disimpulkan bahwa nilai penjumlahan ARCH dan GARCH pada periode post-futures lebih besar dibandingkan dengan penjumlahan pada periode pre-futures. Hal tersebut menandakan bahwa telah terjadi peningkatan efisiensi pasar.

Kaitannya dengan Teori Reviewers:
Bursa berjangka merupakan tempat dilakukannya transaksi kontrak berjangka (futures). Manajer keuangan menggunakan bursa ini sebagai sarana untuk mengimbangi risiko yang berkaitan dengan perubahan harga di masa yang akan datamg.
Menurut Tandelilin (2010) kontrak futures merupakan suatu kesepakatan kontrak tertulis antara dua pihak (pembeli dan penjual) untuk melakukan dan menerima peyerahan sejumlah asset/komoditi dalam jumlah, harga, dan batasan waktu. Kontrak futures dalam UU No. 32/1997 disebut dengan kontrak berjangka, yaitu suatu bentuk kontrak standart untuk membeli atau menjual komoditi dalam jumlah, mutu, jenis, tempat dan waktu penyerahan dikemudian hari yang telah ditetapkan dan termasuk dalam pengertian kontrak berjangka ini adalah opsi atas kontrak berjangka.
Menurut Tandelilin (2010) perdagangan dalam bursa kontrak futures akan berfungsi sebagai transfer risiko (risk transfer), pembentukan harga (price discovery), stabilitas keuangan (financial stability), pengawasan mutu (quality control) dan pengumpulan infoemasi yang efisien (efficienct information gathering). Sedangkan Tandelilin (2010) menguraikan manfaat kontark futures yaitu sebagai lindung nilai dan sarana spekulasi.
Ardiyan (2008) menjelaskan mengenai perbedaan kontrak futures dengan saham, yaitu:
Saham dibeli dan disimpan untuk jangka waktu yang tidak terbatas, sedangkan kontrak futures memiliki hari jatuh tempo
Pada saat penerbitan saham pertama kali, harga saham harus dibayar penuh, sekurang-kurangnya sampai jumlah yang merupakan nilai nominal tersebut. Sedangkan kontrak futures, pada awal transaksi para pelaku hanya diwajibkan membayar dana good faith, semacam performance bond, yang besarnya pada umumnya tidak melebihi 10% dari nilai kontrak .
Short selling pada saham sering kali dilarang. Sementara pada kontrak futures, semua penjualan pada dasarnya adalah short selling.
Jumlah saham yang beredar pada suatu waktu dibatasi oleh aturan yang sangat ketat dan kepemilikan saham juga terbatas. Sedangkan pada kontrak futures batasan posisi terbuka untuk setiap pelaku ditentukan dengan ketat, namun secara agregat tidak pernah ada batasan tentang posisi terbuka secara keseluruhan.
Menurut Wisantyo (2006), praktik perdagangan kontrak futures jarang sekali diakhiri dengan penyerahan komoditi. Kontrak futures biasanya ditutup dengan offsetting, yaitu trader melikuidasi posisi kontraknya sebelum tanggal penyerahan. Dalam hal ini investor dapat mengalami keuntungan maupun kerugian.  Keuntungan diperoleh investor dalam perdagangan kontrak futures apabila investor memperoleh selisih positif dari perubahan harga posisi awal dalam kontrak dengan saat ia melikuidasi posisinya. Sebaliknya kerugian investor apabila memperoleh selisish negative dari perubahan harga.


Rekomendasi untuk analisis selanjutnya:
Untuk analisis selanjutnya diusahakan menambah objek penelitian yang akan diteliti tidak hanya lingkup satu Negara dan satu acuan. Serta analis selanjutnya bisa menambahkan metode analisis data lainnya.

Daftar Pustaka:
Adi Ardiyan. 2008. The Master Traders. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Eduardus Tandelilin. 2010. Portofolio dan Investasi. Yogyakarta: Kanisius.
Edwin Wisantyo. 2006. Analisis Perbandingan Investasi Kontrak Berjangka Komoditi ditinjau dari Risiko dan Tingkat Pengembaliannya dengan Menggunakan Metode CAPM (Studi Kasus: Komoditi Olein dan Emas). Universitas Indonesia, Depok.
Fabbozi & Markowizt H.M. 2002. The Theory and Practice of Investment Management. New Jersey: John Wiley & Sons
Marthin N.M., Agus Rusgiyono, Rita Rahmawati. 2017. Penentuan Harga Opsi Put dan Call Tipe Eropa Terhadap Saham Menggunakan Model Black-Scholes. Universitas Diponegoro, Semarang.
Riaman, Betty Subartini, F. Sukono. 2016. Pengaruh Tingkat Bunga Terhadap Penentuan Harga Suatu Kontrak Opsi pada Model Black-Scholes. Universitas Padjajaran, Bandung

Review Jurnal Analisis Opsi dan Future Nama / NIM : Yuni Mega Lestari / 17510175 Mata Kuliah : Analisis Sekuritas Dosen Mata Kuliah ...